We Must be Change

We Must be Change

We Must be Change. Ungkapan ini sering kita dengar khususnya bila kita sedang gathering, annual meeting atau mengikuti training motivasi. Kedengarannya klise, namun sejujurnya dan sewajarnya bahwa kita memang harus berubah, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik. Apa yang kita kerjakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, bila kita ingin beruntung. Berikut ini adalah kisah inspiratif yang disampaikan Mas Budi Sarwono yang asli piatun Djokja. Pernah dimuat di Majalah Rel In Train Magazine 2011.

We Must be Change
We Must be Change

Ketika Djokja di rembang petang. Junghans si penanda waktu di rumahku sesaat lalu berdentang tujuh kali.

Pertanda aku mesti lukar baju, mandi dan menyiapkan perkerjaan esok pagi. Aku beranjak dari tempat duduk menyambar handuk. Bersamaan dengan itu HP berdering. Sebuah nomor tanpa nama. “Siapa ya? Pentingkah penelpon ini?” ucapku dalam hati. Kuputuskan untuk mengangkat nomor yang tidak saya kenal itu.

“Aku di depan rumah jalan Sorosutan no 67. Inikah rumahmu?” saya suara dari dalam speaker. Dari resonansi suaranya aku menangkap krisis kepercayaan diri yang amat sangat dari orang diujung telpon itu.

“Betul, siapa ini?”, sahutku. Dia menyebut namanya, Deha dan membuatku geragapan. Tanpa permisi telpon kumatikan, dan aku bergegas keluar.

Terpampang di depan mataku, seorang bapak dan anaknya. Si bapak berpakaian lusuh, rambutnya hitam perak. Wajahnya kelihatan 10 tahun lebih tua dari usianya. Dalam kegugupan, aku gandeng dia masuk ke rumah sambil aku memperkuat kepercayaanku bahwa dia betul betul  teman di asrama dulu ketika kami sekolah di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di  Muntilan.

Dia mengamati apapun yang ada di rumahku sehingga membuat  aku agak kurang nyaman. Apalagi beberapa kali  dia mengatakan, “Kamu hebat, Bud!”. Aku tak mampu berucap banyak, pujian itu justru membuatku kecut.

“Aku sering lewat daerah ini, Bud,” katanya membuka percakapan.

“Untuk apa?” tanyaku penasaran.

“Empat tahun aku mulung di daerah ini ”, katanya datar.

“Apaaaa…..?!?!?!?”. Aku terperangah, tidak percaya, sedih, campur aduk. Sungguh sulit memercayai, teman sekamarku akhirnya jadi pemulung. Perlu waktu beberapa menit untuk mempercayai ucapannya.

READ :   Keuntungan Bisnis Online Untuk Mendukung Bisnis Offline

“Mungkin kamu gak percaya, tapi itulah sejarah hidupku,“ sambungnya.

Dia bercireta, sebelumnya dia pernah kerja memungut sampah kota, untuk dikumpulkan di suatu tempat, sebelum dibuang di TPA, di Jogja ini. Hmmm…. aku cuma berpikir, betapa tidak adilnya hidup ini. Betapa kesetiakawanan sosial  itu hanya mampu menjadi  slogan, ketika ada organ-organ sosial yang terlindas oleh peradaban, terkurung sampah dan kesombongan orang di sekitarnya. Betapa kehidupan ini  egois, memikirkan keselamatan diri sendiri, dan diam ketika bagian dari sejarah dirinya menjerit. Hmmm…. aku mengusap ujung kelopak mataku yang mulai basah.

Papan bertuliskan “PEMULUNG DILARANG MASUK” yang terpampang di ujung-ujung jalan dan gang, diam-diam mulai bergeser dari posisi netral ke kutup keberpihakan ketika Deha mengatakan, “Aku pernah nyaris digebugi orang di Pojok Beteng Kulon, karena kurang memperhatkan tulisan PEMULUNG DILARANG MASUK.”  Ya, tulisan itu dulu netral di hatiku, sekarang perlahan lahan bergeser ke arah tertentu. Entahah…

Pertemuan malam itu adalah pertemuan yang haru biru. Aku belum pernah seakrab ini dengan Deha  sebelumnya. Di SPG dulu, kami berteman biasa. Karena kami punya gaya bergaul yang berbeda. Dia cenderung anteng, sedang aku anteng tiada tara  alias tralala.

Pembicaraan kami gayeng, sesekali  Deha menyelingi dengan bergumam, “Kamu hebat, Bud!”  Kalimat yang terdengar seperti pujian itu berulang-ulang menohok perasaaanku.

Dalam hatiku aku juga berkata, “Kamu juga hebat, Deha! Kamu mampu membuat air mataku hampir jatuh, setelah bertahun tahun aku tidak pernah menangis. Kehadiranmu melebihi retret apapun yang mampu menggetarkan hati sampai ribuan hertz.  Aku tak pernah hebat sendirian. Di samping kanan kiriku pasti ada orang hebat lainnya. Di hadapanmu, Deha, aku merasa terpuruk. Kehebatanku juga kehebatanmu. Karena kita dibentuk dari inggridiens yang sama. Makan kita sama. Pun kita minum dari air yang sama. Kita mendapat pendidikan yang sama. Kita berangkat dari strata sosial  yang sama. Kalau sekarang engkau berbeda dengan kami, itu artinya ada yang tidak beres diantara kita. Thats enough!.”

READ :   Indahnya Silaturahmi Bisnis

Dari obrolan malam itu Deha sampai pada kesimpulan, we must be change…!  “Absolutly. Yes…!“ kataku. “Kita harus berubah kawan. Setiap hari tubuh kita mati dan hidup lagi. Ada puluhan ribu sel tubuh yang setiap hari berganti. Ada aliran kehidupan dan kematian di tubuh kita. Setiap hari seharusnya kita mengucap innalillahi….. Kemudian syukur kepada Tuhan karena hidup lagi. Sel-sel otak kita setiap hari berganti, pikiran kitalah yang pejal. So so so so…. rangsang pikiran untuk berubah,” ceramahku panjang kepada Deha.

“Apa gak telambat, Bud?” tanyanya penuh keraguan.

Aku tidak menjawab. Kuminta Deha dan anaknya berkemas. “Mari rayakan malam ini dengan makan bersama,” kataku. Aku bawa Deha ke Malioboro Mall, sengaja  akan kupilihkan gerai makanan cepat saji milik Kolonel Sanders yang terkenal itu. Tetapi karena Mall hampir tutup maka kubelokkan Deha ke gerai sejenis yang buka 24 jam.

“Deha!” kataku memulai percakapan di Mall itu. “Kolonel Sanders  memulai usaha jualan ayam goreng seperti ini pada usia 55 tahun ketika dia pensiun dari dinas tentara. Berapa usiamu?” kataku menantang. Sebenarnya aku tahu Deha lahir tahun 1965.

Dia diam.

Pertanyaanku ini adalah sebuah respon bagi pertanyaan dia sebelum kami beranjak dari rumah. “Tidak ada kata terlambat, Deha! Kita bisa mulai kapan saja. Karena waktu adalah ilusi. Kemarin dan besuk itu sama sama sedang terjadi saat ini. The real time adalah saat ini, Deha!” Dia terlihat merenungkan kalimatku yang memang sulit dimengerti.

“Deha!  Kolonel Sanders menawarkan resep ayam gorengnya hampir ke 2.000 restoran. Dari restoran pertama hingga ke 1.999 tidak ada yang tertarik. Akhirnya ada restoran kecil bernama Kentucky yang mau bekerjasama dengan Sanders. Apa yang terjadi selanjutnya? Sukses tidak bisa dilawan ketika sudah menjadi takdir! Untuk mendapat takdir yang baik kita cuma butuh konsisten dan presisten  atau tekun, dibumbui doa dan relasi yang baik. Dan yang penting change your mind and your heart, Deha!” kataku terus memberondong. Saya lihat Deha manggut-manggut pertanda mengamini perkataan saya.  Pelan-pelan Deha memahami cara berpikirku. Bahwa modal kami betul betul sama, kalau hasilnya berbeda, itu soal settingan pikiran dan settingan hati yang berbeda.

READ :   Menumbuhkan Keberanian Dalam Berbisnis

Belum selesai aku bersyukur, fragmen yang lain seperti ceritera bersambung terpapar didepanku. Aku melihat Deha menikmati ayam gorengnya hanya separo, lalu  menyisakan separonya lagi.  Membungkusnya dengan rapi sisa ayam gorengnya, lalu memasukkan ke dalam saku jaketnya yang lusuh.

“Apa, gak suka kamu?” tanyaku tak enak hati.

“Untuk Istri,” jawabnya singkat. Demikian pula, anak laki lakinya, diminta memakan separo, menyisakan untuk adik terkasihnya yang ada di rumah. Membungkus sisanya, lalu memasukkan ke kantong celana yang sudah robek disana sini.

“Duh Gusti.., nyuwun kawelasan.  Wahai rasa cinta yang besar, rasa keterasingan, ketulusan, keterbatasan, nasib,  dan penyesalan yang tidak lagi bisa mengeja makna…”  Aku tercenung lama, speeachless.  “Deha,  kau memang tidak pernah menjadi guru tetapi malam ini kamu adalah guru besarku, terutama dalam hal mencintai. Berbahagialah pasangan hidupmu oleh cintamu yang mulia.”

Budi Sarwono

Ditulis dengan penuh cinta di Sorosutan 67 Djokja.

NB: Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS: Al-Ra’d- 13 : 11)

Similar Posts:

One thought on “We Must be Change”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.